Mari berkumpul,
Sejenak menyisipkan doa yang itu-itu saja,
Doa yang sudah sumpek sesak terselip di dada.
“Teruntuk tubuh yang ikhlas menanggung hari-hati penuh innalillahi,
Teruntuk pengharapan yang terbang beriringan dengan cepatnya timah panas dan milisi,
Teruntuk kebebasan yang harus dibayar dengan keringat dan darah. sambil terus berdoa lima kali sehari
Kobar itu masih ada, terus menyala
Kemerdekaanmu harus dibayar lunas
Tuntas
Tanpa ada aba-aba
Tak apa, pasti MERDEKA”
AMIN.
-Pra.
ZAKY FAHMI
Mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2023





