Latest Post

Sebidang Tanah

Angin pagi menyapu lembut dedaunan pisang yang tumbuh liar di pinggiran desa. Di antara deretan semak dan pepohonan, tampak seorang anak laki-laki kecil mendorong gerobak kayu berisi rumput dan botol-botol plastik bekas. Di atas gerobak, duduk seorang balita perempuan dengan rambut ikal dan mata yang masih mengantuk. Ia menggenggam erat boneka lusuh yang sudah kehilangan satu matanya.

Anak laki-laki itu adalah Arif, dia berusia 13 tahun, sedangkan di atas gerobaknya, duduk adik kesayangannya, Nisa, yang baru berusia dua tahun.

Setahun lalu, hidup mereka berubah. Sebuah kecelakaan tunggal di jalan tikungan curam menelan kedua orang tua mereka. Ayah dan ibu meninggal di tempat. Arif yang saat itu berumur dua belas tahun hanya bisa menatap batu nisan yang baru terpasang dengan gemetar, sambil memeluk adiknya yang belum mengerti apa- apa.

Sejak itu, Arif menjadi kepala keluarga, ia tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena masalah biaya. Sehari-hari, ia menjual sisa barang-barang yang bisa ditukar dengan makanan, dan mulai bekerja apapun yang bisa ia lakukan mulai dari mengambil rumput untuk kambing tetangga, membantu mengangkut hasil panen, hingga memungut barang bekas.

Meski hidupnya keras, Arif tak pernah mengeluh. Ia hanya punya satu tujuan yaitu membuat Nisa tetap hidup dan bahagia. Satu-satunya peninggalan berharga dari orang tuanya adalah sebidang tanah kecil di belakang gubuk mereka. Tanah itu dulu sempat ditanami cabai oleh ayahnya, tapi sejak kecelakaan itu, ia dibiarkan terbengkalai. Setiap kali Arif duduk memandangi tanah itu, hatinya selalu bergolak.

“Ya Allah, izinkanlah sebidang tanah ini sebagai sumber rezekiku dan sebagai tempat aku bangkit” bisiknya dalam hati.

Ia mulai menggarap tanah itu sedikit demi sedikit dengan cangkul tua yang ia pinjam dari Pak Raji, tetangga sebelah, ia mencabuti rumput liar dan menggemburkan tanah. Tangannya lecet, punggungnya pegal, tapi ia merasa ada kehidupan yang mulai tumbuh bersamanya. Ia menanam biji cabai dari sisa dapur, lalu mencoba menanam bayam dan kangkung dari batang sisa sayuran pasar. Ia tidak tahu cara bercocok tanam yang benar, tapi ia belajar dari tanah. Kalau gagal,

ia coba lagi. Ia perhatikan daun-daun, warna tanah, dan kapan air terlalu banyak atau kurang.

Musim hujan datang. Tanaman-tanamannya tumbuh subur. Nisa, yang sudah mulai bisa berlari-lari kecil, suka bermain di sela-sela tanaman sambil tertawa.

“Mas Arif hebat! Ini kebun Mas, ya?” katanya sambil menunjuk tanaman tomat yang mulai berbunga.

Arif hanya tertawa. Ia merasa, suara tawa Nisa lebih menyegarkan daripada hujan yang membasahi ladangnya. Panen pertama tidak banyak, hanya beberapa ikat bayam dan seplastik cabai rawit. Tapi itu cukup membuat Arif bisa menukar hasilnya dengan beras dan minyak goreng di warung Pak Mat. Kali pertama dalam dua tahun, mereka bisa makan nasi hangat dan sayur bening tanpa harusmengemis belas kasihan.

Tahun berikutnya, Arif memperluas lahan. Ia membersihkan bagian tanah yang belum tergarap, membuat bedengan, dan menanam jagung, kacang panjang, serta singkong. Ia membuat pupuk dari sisa dedaunan dan kotoran ayam yang ia kumpulkan sendiri. Semuanya ia pelajari sendiri, hanya dengan melihat dan mencoba.

Ia juga mulai memelihara beberapa ayam kampung dari anak ayam yang ia dapat dari barter. Ia buat kandang sederhana dari bambu bekas. Setiap pagi, sebelum bekerja di ladang, ia menyapu kandang, memberi makan ayam, dan menyiram tanaman.

Penduduk desa mulai memperhatikan.

“Anak itu kerja keras, ya. Nggak pernah ngeluh,” kata mereka.

Beberapa mulai membeli hasil tanamannya, dan beberapa menitipkan lahan kecil untuk dikelola oleh Arif dengan sistem bagi hasil.

Arif menerima semuanya dengan rendah hati. Ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil panen, memperbaiki gubuknya yang bocor, dan membuat dapur kecil agar bisa memasak dengan layak untuk Nisa.

3 tahun kemudian, Arif sudah memiliki kebun sendiri yang hijau sepanjang musim. Ia sudah tidak mengumpulkan botol plastik atau rumput untuk kambing lagi. Waktunya ia habiskan di ladang, bersama tanah dan matahari.

Ia tidak pernah mengeluh meski tubuhnya kurus dan bajunya penuh lumpur. Setiap malam, ia masih harus menemani Nisa hingga tidur, dan setelah itu, ia duduk di beranda memandangi langit.

Kadang ia berkata, “Bapak, Ibu… Arif belum bisa jadi orang hebat. Tapi Arif tidak menyerah.”

Tahun-tahun berikutnya, kerja kerasnya mulai menuai hasil lebih besar. Ia membeli lahan kosong di sebelah kebunnya dengan uang tabungannya. Di situ, ia menanam semangka dan timun. Ia belajar cara membuat sumur dangkal agar tak perlu mengangkut air jauh-jauh.

Beberapa petani muda di desa mulai ikut meniru cara Arif mengolah tanah dengan alami, tanpa pupuk kimia. Arif tak pelit ilmu. Ia mengajak mereka bergotong- royong, berbagi hasil, dan bekerja bersama saat musim panen.

Hasil panennya semakin banyak. Ia menyewa gerobak untuk mengangkut sayur ke pasar kecamatan. Ia juga mulai membangun gubuk penyimpanan kecil dan kandang kambing. Semuanya ia lakukan perlahan, satu demi satu, dari keringat sendiri. Kini, di usia 18 tahun, Arif dikenal sebagai petani muda paling giat di desanya. Lahan kecilnya yang dulu gersang kini berubah jadi hamparan hijau yang produktif.

Suatu ketika Nisa duduk di pangkuannya sambil menggambar rumah dan ladang. “Kalau gede, aku mau bantu Mas Arif tanam semangka!” katanya ceria.

Arif tersenyum, menatap adiknya. Matanya teralihkan ke ladang yang mulai menguning oleh jagung siap panen, menatap kandang ayam dan kolam lele yangia buat sendiri.

Tanah yang dulu hanya warisan terbengkalai, kini dipenuhi tanaman hijau. Sumber rezeki bagi Arif dan Nisa.

IVAN ABDILLAH

Mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2023
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Login