Pendahuluan
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, atau lebih akrab dikenal dengan nama Ziggy, merupakan salah satu penulis muda Indonesia yang dikenal karena gaya penulisannya yang unik dan imajinatif. Ia lahir di Bandar Lampung dan sudah aktif menulis sejak remaja. Sejumlah karyanya antara lain “Di Tanah Lada” (2015) yang masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa, “Kita Pergi Hari Ini” (2020), hingga “Mari Pergi Lebih Jauh” (2024). Ziggy kerap memadukan unsur cerita anak, fantasi, fiksi ilmiah, dan dongeng dengan gaya bercerita yang segar sekaligus penuh makna. Novel “Semua Ikan di Langit” (2017) merupakan salah satu karya penting Ziggy yang berhasil meraih Juara I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016. Melalui novel ini, Ziggy ingin mengajak pembaca, baik anak-anak maupun orang dewasa, untuk menyelami dunia penuh simbol dan fantasi yang merefleksikan persoalan kemanusiaan, cinta, serta pencarian makna hidup. Dengan bahasa yang sederhana namun puitis, Ziggy seolah menghadirkan sebuah dongeng modern yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengundang pembaca merenung lebih jauh tentang kehidupan.
Isi
Salah satu elemen paling memukau dari Semua Ikan di Langit adalah pilihan sudut pandang naratornya. Kisah ini diceritakan dari perspektif “Saya” sebuah Bus Damri tua yang sebelumnya memiliki trayek rutin Dipatiukur–Leuwipanjang di Bandung. Narator non-manusia ini digambarkan sebagai entitas yang hidup, memiliki “jiwa” dan memiliki “rasa empati” yang mendalam terhadap para penumpangnya. Uniknya, bus ini memiliki kemampuan untuk mengetahui rahasia setiap penumpangnya, sebab kaki-kaki mereka secara diam-diam “bercerita” kepadanya tentang apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Pilihan sudut pandang ini adalah sebuah strategi naratif yang cerdas dan penuh makna. Dengan mengubah sebuah benda mati yang seringkali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, sebuah bus kota, menjadi saksi bisu dan wadah bagi pengalaman manusia, penulis berhasil menyampaikan pesan yang lebih dalam. Bus ini berfungsi sebagai metafora yang kuat, menggambarkan bagaimana hal-hal paling biasa di sekitar kita bisa menyimpan cerita dan kebijaksanaan yang mendalam. Alih-alih menjadi sekadar kendaraan, bus ini bertransformasi menjadi “teman ajaib” yang menemani manusia dalam perjalanannya.
Inti dari “Semua Ikan di Langit” terletak pada karakter “Beliau”, seorang anak kecil misterius yang merupakan representasi simbolis dari Tuhan. Di bawah jubah kebesarannya, Beliau digambarkan dengan kekuatan yang luar biasa dan puitis. Ia mampu menciptakan galaksi dari permen dan menjahit ciptaannya satu per satu dengan hati-hati. Narasi ini secara halus memperkenalkan konsep-konsep teologis yang kompleks melalui alegori. Novel ini secara berani menyajikan sebuah paradoks teologis yang jarang diangkat dalam fiksi. Berlawanan dengan keyakinan umum tentang Tuhan yang Maha Sempurna, Beliau digambarkan sebagai sosok yang “tidak sempurna” di mata ciptaannya dan seolah “membutuhkan” apresiasi. Paradoks ini muncul karena manusia tidak sepenuhnya memahami rencana dan maksud Tuhan di balik aturan-Nya. Keinginan Beliau untuk diakui, untuk melihat ciptaannya menyukai dan memuji-Nya, bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah refleksi dari tujuan penciptaan itu sendiri. Hal ini diperkuat dengan kutipan dari Al-Qur’an (QS. Adz Dzariyat: 56) yang menyatakan bahwa tujuan manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah dan menyembah Allah SWT. Dengan demikian, novel ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa “ketidaksempurnaan” yang terlihat adalah hasil dari keterbatasan pemahaman manusia, bukan ketidaksempurnaan pada Sang Pencipta. Melalui dua tokoh, Bus Damri dan Seorang Petani, Ziggy menghadirkan keadaan iman yang
luas, menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan Sang Pencipta bisa didorong oleh cinta yang tulus atau kebutuhan yang efektif dan efisien. Keduanya adalah bagian dari pengalaman spiritual manusia yang universal. Novel ini secara halus mengajak pembaca untuk merenungkan kualitas dan motivasi di balik hubungan mereka sendiri dengan Yang Maha Kuasa.
Kelebihan
Novel ini dipuji karena memiliki alur cerita yang kaya fantasi dan berhasil membuat pembaca berimajinasi dengan bebas. Kemampuan penulis, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, dalam merangkai kata juga dianggap “di atas rata-rata”, menciptakan prosa yang terasa seperti puisi. Cerita ini didukung oleh karakter-karakter yang sangat orisinal dan unik, seperti narator berupa Bus Damri tua dan kecoa asal Rusia. Lebih dari sekadar hiburan, novel ini menggunakan realisme magis dan alegori untuk membahas tema-tema mendalam seperti hubungan manusia dengan Tuhan, menjadikannya pengalaman membaca yang sangat reflektif. Pengakuan dari komunitas sastra dengan menjadi satu-satunya pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016 semakin mengukuhkan kualitasnya.
Kekurangan
Novel ini sering dikritik karena maknanya yang “kurang mudah dipahami” dan membutuhkan niat serta ketekunan dari pembaca. Alur ceritanya yang non-linear dan seperti kumpulan cerpen yang berkelanjutan dapat membuat beberapa pembaca merasa bingung. Akibatnya, novel ini sering dianggap harus dibaca “berulang-ulang” untuk dapat dicerna dan direfleksikan sepenuhnya. Beberapa pembaca bahkan merasa bahwa novel ini “lewat begitu saja” dan tidak meninggalkan kesan mendalam jika tidak diselesaikan dengan hati-hati. Meskipun demikian, kesulitan inilah yang membuat novel ini menantang dan membedakannya dari karya fiksi lainnya.
Kesimpulan
“Semua Ikan di Langit” merupakan karya sastra yang berani, cerdas, sekaligus orisinal. Novel ini hadir sebagai sebuah alegori teologis yang kaya makna, dibalut dengan gaya realisme magis dan sudut pandang narator yang tidak biasa. Alih-alih menawarkan alur sederhana, Ziggy justru mengajak pembaca untuk berimajinasi tanpa batas dan merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar seputar eksistensi dan spiritualitas. Buku ini tidak hanya menjadi bacaan, melainkan
pengalaman yang harus dijalani, sebuah proses perenungan panjang yang meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang mau menyelaminya. Oleh karena itu, novel ini tepat bagi pembaca yang mencari pengalaman sastra berbeda, terutama yang menyukai fantasi, realisme magis, maupun tema-tema filsafat. Melalui gaya narasi yang tidak konvensional, Ziggy mendorong pembaca untuk meninjau ulang konsep-konsep spiritual secara lebih segar. Bagi yang sabar menikmati setiap bagiannya, bahkan membacanya lebih dari sekali, novel ini akan menghadiahkan pemahaman baru sekaligus refleksi mendalam, menjadikannya salah satu karya yang unik dan sulit dilupakan.
JEVIRA
Mahasiswa Sastra Indonesia Angkatan 2024





